« Kembali
Efek Buruk Pernikahan di Bawah Umur
Faktanya, pernikahan dini memiliki dampak negatif. Bukan sekadar fisik dan psikis.
Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti
Jum'at, 23 Juli 2010, 08:01 WIB
Ragu Menikah (doc Corbis)
Ragu Menikah (doc Corbis)

VIVAnews - Menikah sebelum cukup usia, ternyata masih banyak terjadi di kota maupun di daerah-daerah di Indonesia. Budaya perjodohan bahkan sejak anak perempuan belum lulus SD atau SMP, masih dilakukan  banyak orangtua, terutama yang tinggal di pedesaan.

Dari penelitian yang dilakukan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Rembang, pernikahan dini yang dilakukan anak-anak usia sekolah masih terbilang tinggi. Pada 2006 - 2010, jumlah anak menikah usia dini (menikah di bawah usia 17 tahun) masih meningkat walaupun persentasenya naik turun.

“Pada 2006 jumlahnya 12, 2007 ada 6, 2008 sebanyak 21 anak, 2009 sebanyak 31 anak dan 2010 sampai dengan Juli jumlah anak menikah usia dini sebanyak 28,” kata Sekretaris Cabang KPI Rembang, Iin Arinta Fahadiana dalam Diskusi Publik Refleksi Hari Anak Nasional dengan tema 'Perkawinan Anak, Salah Siapa' di Gedung BPPT, Thamrin, Jakarta, kemarin.

Sementara data lain menunjukkan, ada beberapa penyebab terjadinya pernikahan anak usia dini. DR Sukron Kamil, salah seorang peneliti dari UIN menyatakan, 62 persen wanita menikah karena hamil, 21 persen pernikahan karena ingin memperbaiki ekonomi dan keluar dari kemiskinan dan sisanya karena dipaksa orangtua dan karena status sosial.

Namun dari fakta yang didapat, perlu diketahui, pernikahan dini memiliki dampak negatif. “Bukan sekadar dampak psikis dan fisik,” kata Iin.

Apa saja dampak dari pernikahan anak usia dini?

1. Kekerasan terhadap anak
Anak bisa mengalami kekerasan dari orangtua atau keluarga bila menolak untuk dinikahkan. Seperti kasus di desa Tegaldowo rembang dan Desa Ngiri, orangtua sampai melakukan kekerasan fisik, seperti menendang, dan memukul dengan sapu, sehingga anak kabur dari rumah. Bahkan ada kasus, setelah pernikahan, anak mencoba bunuh diri dengan minum cairan pestisida

2. Tingkat perceraian tinggi
Lebih dari 50 persen pernikahan anak tidak berhasil, dan akhirnya bercerai. Bahkan ada juga kasus yang menjalani pernikahan hanya dalam hitungan minggu lalu berpisah. Dan, biasanya hal ini terjadi karena anak perempuan tidak mau melakukan kewajiban sebagai istri dan kurangnya kesiapan dari masing-masing pasangan yang mau menikah

3. Kemiskinan meningkat, karena belum siap secara ekonomi

4. Traffiking/eksploitasi dan seks komersial anak
Setelah menikah maka perempuan akan dibebaskan oleh orangtuanya. Mereka akan keluar dari desanya atau rumahnya dan memilih bekerja. Beberapa kasus anak bekerja sebagai penyanyi karaoke bahkan ada juga yang menjadi wanita penghibur.

 

Baca juga: 12 Pria Ini Kepergok Selingkuh

4 Kesalahan Terbesar Wanita Lajang

• VIVAlife   |   Share :  
  • winda
    23/05/2011
       Laporkan
    Tapi dari segi sosial budaya paling kuat berpengaruh. Terutama diperkampungan. Sosialisasi tak berpengaruh. | via VIVAnews
  • reza81
    23/07/2010
       Laporkan
    Tapi yg perlu didingat... pernikahan dini paling banyak terjadi karena HAMIL.... Harusnya bukan pernikahannya yg jadi masalah, tapi sebab musababnya yg musti diberantas.... | via VIVAnews

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id