VIVALIFE

Klenger Burger vs Blenger Burger

Perang burger lokal mungkin sudah jadi memori usang bagi banyak orang
Jum'at, 3 September 2010
Oleh : Laksmi Pamuntjak

Klenger atau Blenger? Dilindas oleh roda globalisasi yang keji, perang burger lokal mungkin sudah jadi memori usang bagi banyak orang. Tapi, sebut saja dua kata itu: “Klenger” atau “Blenger”, dan letupan emosi muncul tak terkendali bagai jerawat di ambang pecah (apalagi hari-hari ini, dengan segala huru-hara pemilu).

Yang pertama kali muncul adalah Klenger: meski dengan pemasarannya yang agresif dan distribusinya yang fenomenal (lebih daripada 100 unit di pusat dan pinggiran Jakarta, cabang di Bandung, Bali, Surabaya, dan Malang sampai saat ini), bintangnya telah sedikit memudar di bawah bayang-bayang reputasi Blenger yang kukuh. Penggemar Klenger menuduh Blenger mencuri resep Klenger; pemuja Blenger bersikukuh bahwa resep Blenger lebih oke. Yang pertama menjunjung keunggulan roti rumahan mereka, yang kedua duduk rileks dan tertawa.

Percuma bersikeras siapa yang lebih baik: bagaimana pun juga, burgerku bukan burgermu. Tapi, memang, ada yang harus saya katakan tentang adonan daging Blenger (lebih elok, lebih ranum) dan bagaimana setiap bagiannya berpadu membentuk keseluruhan sajian. Anda tak bisa mencecap kyuri dalam campuran sambal-mayonesnya dan mengetahuinya secara persis, tapi entah bagaimana, semua kok tetap saja terpadu cantik.

Di sisi lain, Klenger punya roti yang lebih baik, dan tendangan mirip whopper yang menyenangkan dalam campuran mayones-kecap-sambalnya. Tapi—dan di sinilah tragisnya—kualitas daging mereka lebih rendah. Mayonesnya juga terlalu banyak, dan ini—meski Klenger tampil pede dengan beragam pilihan (paling tidak ini mengingatkan kita pada burger gaya Orde Baru, dengan akronim-akronimnya yang khas—“SCB-nya pakai PCB, Mbak? Atau mungkin pakai CS untuk SCCkB-nya?”)—mau tak mau membunuh selera makan Anda sebelum Anda bahkan mulai mencecap gradasi atau kompleksitas rasanya.

Burger Blenger juga jauh lebih murah (Rp 10.500 untuk burger daging sapi, Rp 12.000 untuk burger keju) daripada Burger Klenger (Rp 12.273 untuk Super Beef Burger, dan Rp 13.636 untuk Super Cheese Burger).

Dengan latar-belakang ini, ada yang terasa menyejukkan pada menu Blenger yang terfokus—dua burger, keju dan daging, dan dua hotdog (keju dan sambal) (tapi dijamin mantap). Jangan-jangan kita perlu berterimakasih kepada Klenger untuk itu.
 
Blenger Burger bisa dijumpai di empat cabang: Blenger Barito (Outlet 1), Griya Astika Complex, Jl. Lamandau 4 no. 16-18, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Tel. 9229 8033, 0888 161 1200; Blenger Bintaro (Outlet 2), Jl. Taman Barat, Blok F1, Sektor 1 Bintaro Jaya, Jakarta Selatan, Tel. 0856 830 8001; Blenger BSD (Outlet 3), Ruko Versailles Blok FA no. 1, Bumi Serpong Damai-Tangerang, Tel. 537 4040, 538 4141; Blenger Pondok Labu (Outlet 4), Kios Taman Pondok Labu Blok B no. 1, Jl. R.S. Fatmawati no. 72, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Tel. 7590 3444, 9229 8101

Klenger Burger bisa ditemui di lebih daripada 100 unit di Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor termasuk di Salemba Tengah, Cibubur, Penggilingan, Rawamangun, Buaran, Pancoran, Sudirman Bogor, Padjajaran Bogor, DTC Sawangan, Kreo and Plaza Bogor.  Beberapa lokasi: Jl. Fatmawati no 51 E, dekat D’Best Shopping Mall, Cipete, Jakarta Selatan, Tel. 750 5551; Jl. Margonda Raya no. 27, Depok, Tel. 9267 7207; Jl. Salemba Tengah no. 27, Jakarta Pusat, Tel. 9109 4048. Unit di Fatmawati buka 24 jam seminggu.

TERKAIT
TERPOPULER