« Kembali
Bahaya Amandel pada Anak
Mengapa anak-anak rentan mengalami penyakit amandel,dan apa penyebabnya?
Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti
Jum'at, 18 Maret 2011, 10:39 WIB
Anak sakit (doc Corbis)
Anak sakit (doc Corbis)

VIVAnews - Penderita tonsilitas atau lebih popular dikenal dengan istilah penyakit amandel umumnya dialami anak-anak usia 5-15 tahun. Kondisi amandel yang menyerang anak bisa berbeda-beda.

Keluhan amandel yang ringan biasanya muncul saat daya tahan anak drop. Namun, dalam kondisi parah, pengangkatan amandel seringkali perlu dilakukan oleh dokter THT. Tapi, mengapa anak-anak rentan mengalami penyakit amandel,dan apa penyebabnya?

Tonsil atau amandel, sebagai benda bulat yang posisinya berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan, merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghadang agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Ukuran amandel juga beragam, mulai dari sebesar kelereng hingga seukuran bola ping pong.
 
Amandel  pada orang sehat akan berwarna sesuai dengan warna jaringan di sekitarnya dan memiliki permukaan rata. Sedangkan pada mereka yang mengalami tonsillitis (infeksi atau radang amandel) warnanya bisa menjadi kemerahan atau terdapat bercak putih pada amandel, dan ukuran amandel kemudian membesar.

Masalah peradangan dan infeksi amandel ini bisa mengakibatkan sakit tenggorokan kronis  atau berulang, bau mulut, gangguan menelan, tersumbatnya jalan pernapasan bagian atas yang ditandai dengan dengkuran hingga terhentinya jalan pernapasan saat tidur.

“Ini yang membahayakan pasien, dan biasanya anak-anak sangat rentan mengalami penyakit amandel, karena daya tahan tubuh mereka yang masih rendah,” kata  Spesialis THT, Dr Agus Subagio, Sp. THT dari RS Puri Indah Kembangan.

Masalah infeksi dan radang amandel  disebabkan oleh masuknya mikroorganisme (bakteri dan virus) yang menyerang tenggorokan. Dan berdasarkan waktu berlangsungnya, radang dan infeksi amandel bisa berlangsung lama sesuai kondisinya. Jika kondisi infeksi dan peradangan sudah akut, ketika radang berlangsung kurang dari 3 minggu, dan  dalam kondisi kronis jika frekuensi infeksi mencapai 7 kali setiap tahun atau 10 kali dalam 2 tahun ataupun 3 kali dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

Gejala yang dialami penderita juga beragam, mulai dari tenggorokan yang terasa kering, rasa nyeri saat menelan, demam terkadang diikuti flu,pilek, sakit kepala, bau mulut, mual, dan pembesaran  kelenjar getah bening di sekitar leher.

“Radang amandel yang tidak segera ditangani  akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti infeksi  pada telinga, dan sinus, abses atau bisul pada tenggorokan sehingga harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan nanah, hingga gangguan pertumbuhan pada anak,” katanya.

Agar anak-anak terhindar dari penyakit amandel, orangtua perlu waspada, jangan sampai anak-anak mudah terpapar virus dan bakteri. Sebab, kekebalan tubuhnya masih rendah, anak akan mudah mengalami  infeksi. Jika infeksi berulang, maka akan menekan system pertahanan tubuh.

“Infeksi saluran napas adalah infeksi paling sering dialami anak dan paling mudah menular pada anak. Jika sering terjadi infeksi, amandel akan membesar bahkan bengkak yang bisa menghambat saluran pernapasan,” kata Agus.

Agus juga menyarankan, agar anak terhindar dari masalah infeksi berulang, caranya jalani pola hidup bersih, hindari anak dari orang-orang atau lingkungan yang banyak dihuni oleh penderita flu, dan selalu cuci tangan.

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id