VIVALIFE

FOTO: Perpaduan Keindahan Desain Timur-Barat

Intip karya-karya indah sepuluh perancang muda, finalis Lomba Perancang Mode.
Jum'at, 18 November 2011
Oleh : Mutia Nugraheni, Febry Abbdinnah
Final Show LPM 2011 di Jakarta Fashion Week 2012

VIVAnews - Lomba Perancang Mode (LPM) adalah salah satu cara melahirkan bakat-bakat baru di dunia fashion Indonesia. Sudah tahun ke-24, ajang semacam ini diadakan. Pada Jakarta Fashion Week 2012, LPM kembali digelar dengan menghadirkan karya bertema 'Sinergi Timur-Barat' dari sepuluh finalis.

Terdapat 296 sketsa yang masuk ke meja panitia, namun hanya ada 10 finalis pilihan dewan juri yang berhak menampilkan 6 rancangan pada para undangan JFW 2012.

Mereka adalah Albert Ferdi Sibarani dari Yogyakarta, Delly Andriani (Tanggerang), Cynthia Tan (Jakarta), Friederich Herman (Malang), Popo Rickky (Jakarta), Sherly Monica (Jakarta), Lulu Lutfi Labibi (Yogyakarta), Iwan Amir (Jakarta), Sischaet Detta (Jakarta), dan Erliana Sumali (Jakarta).

"Dalam penjurian, kami tidak hanya melihat bakat yang ada, tetapi juga bagaimana mereka menghadapi industri fashion," ujar Musa Widyatmodjo, salah satu dewan juri yang juga alumni LPM.

Menurut Musa, penting bagi juri mengetahui cerita di balik setiap rancangan. Ini untuk membantu dan mengarahkan finalis mengembangkan rancangannya. Termasuk mengembangkan busana siap pakai dengan daya jual dan daya pakai yang tinggi. Setelah menghadapi proses penjurian panjang, Kamis malam, 17 November 2011, kesepuluh desainer muda itu unjuk gigi.

Dibuka dengan rancangan Iwan Amir yang menampilkan koleksi busana penuh warna. Ia mencoba menjawab tantangan dewan juri dengan memadukan unsur tenun Samarinda dan bordir motif kepala burung Enggang dalam desainnya. Terinspirasi dari tarian Burung Enggang Kalimantan Timur, ia membuat koleksi mini dress, bolero, A-line midi dress, dan micro mini jumper. Garis desainnya yang mengedepankan jiwa muda, juga menerjemahkan sisi modern.

Erliana Sumali coba memadukan denim yang mewakili budaya barat dan batik yang mewakili budaya timur. Kepolosan denim diimbangi dengan kemeriahan motif batik sebagai aksen. Tak heran jika ia mampu menarik mata pihak Mazda untuk memilihnya sebagai juara kategori khusus Mazda.

Masih menggunakan batik, Albert Ferdi Sibarani memadukan bahan sutra, velvet dan batik bermotif parang dengan teknik patchwork, aksen layer, dan cutting asimetris. Lalu, terinspirasi dari pola geometris motif batik Parang dan Kawung, Delly Andriani menghadirkan rancangan minimalis bermain dengan potongan asimetris, detail, dan perpaduan bahan polyester, crape,
rayon, linen, hingga sutra.

Dengan tema Relaxed Sensation, Cynthia Tan menghadirkan motif kain yang terinspirasi dari komodo, hewan khas di NTT dengan menggunakan kain ikat Ayotupas yang pembuatannya masih sangat tradisional. Dengan didominasi teknik tiered, ia 'menyulap' clutch bag menjadi rok mini yang chic. Ia pun berhasil menyabet piala untuk juara ke-3.

Colorful dan edgy adalah kesan yang sangat melekat pada rancangan Friederich Herman. Dengan menggunakan teknik shibori dan tie dye yang sangat tua, ia menghasilkan mini dress, kemeja, bolero, dan blazer yang dipadukan dengan motif batik. Keunikan teknik dan cutting yang digunakan tampaknya mampu membuat dewan juri memilihnya sebagai juara ke-2.

Lulu Lutfi Labibi yang akhirnya berhasil memenangi juara 1 dalam ajang ini menghadirkan koleksi yang memadukan material kain batik kontemporer, lurik dari Yogyakarta, sarung goyor dari Klaten, dan tenun ikat dari Jepara. Sederhana, namun cantik ditampilkan dengan detail motif, aksen transparan, dan teknik drapping.

Berbeda dari desainer lainnya yang menggunakan budaya Indonesia dalam menginterpretasikan budaya Timur, Sherly Monica yang jadi juara Favorit, menampilkan kesan feminin dan romantis dari wanita oriental. Koleksinya didominasi warna pastel detail layer, balloon silhouette dengan menambahkan dua sisi bolero.

Siluet dalam koleksi rancangan Popo Rickky terinspirasi dari romantisme 70-an. Midi dress dan long dress tampak mendominasi koleksi dengan motif burung phoenix dan batik yang terinspirasi dari pohon Boswellia.

Gelaran ini ditutup oleh finalis Siscaet Detta yang menampilkan koleksi dengan perpaduan kain tenun Endek dari Bali dan pengolahan motif pada mutiara bertumpuk dan beading.

Ia pun menambahkan aksen layer dan bulu-bulu untuk mempermanis rancangannya. Lihat saja keseruan desain para finalis di sini. (art)

TERKAIT
TERPOPULER