« Kembali
Yuk Belajar Memanah Ala Robin Hood
Sayang meleset jauh dan tak berada di lingkaran paling tengah.
Heni Pridia, Stella Maris
Rabu, 16 Mei 2012, 08:02 WIB
Memanah untuk menanamkan sportivitas sedari kecil.  
Memanah untuk menanamkan sportivitas sedari kecil.  

 

VIVAnews - Berjam-jam bekerja di depan komputer, menyiapkan konsep  wawancara, menuliskan artikel, atau bertemu dengan nara sumber menjadi rutinitas yang bikin saya lelah. Makanya, kalau tiba saat weekend, yang ada di pikiran saya hanya tidur, tidur, dan tidur. 

Bak pucuk dicinta ulam tiba, saya mendapatkan hadiah tak terduga. Dikirimkan oleh seorang teman agar saya tak hanya menghabiskan waktu di tempat tidur saat weekend. Kado eksklusif, yang dipesan secara online lewat www.fokado.com, berupa kotak warna merah dengan pita cokelat. Isinya ternyata kursus panahan. Asyikkk....

Yang terbersit dalam benak tentang panahan adalah legenda Robin Hood, pencuri baik hati yang membagikan hasil jarahannya kepada masyarakat miskin di Inggris.  Karena itu, langsung timbul keinginan untuk bisa jadi pemanah sekaliber Robin Hood. 

Minggu pagi yang cerah, saya telah siap di Lapangan Panahan, Senayan, Jakarta. Di tempat itu saya akan dibimbing oleh coach profesional, Mas Danang. Ia sudah 18 tahun terjun di dunia panahan. Tak heran Mas Danang mengerti betul cara memanah yang tidak menimbulkan cidera bagi pemula seperti saya. 

Ternyata, banyak yang harus dipersiapkan sebelumnya. Saya harus mengenakan pelindung jari (finger tab) dan pelindung lengan (armguard). Busur (bow) di tangan dan anak panah (arrow) dalam kantong pemanah (side quiver) yang terikat di pinggang saya. 

Bak pemanah profesional saya mulai merentangkan busur. Busur yang berat membuat saya seperti berlatih angkat beban. Apalagi, saya harus meluruskan tangan agar busur berdiri tegak, 90 derajat. Hitung-hitung latihan otot lengan agar tak lekas kendur. Belum lagi kerasnya tali busur saat harus menariknya agar anak panah terlepas sempurna hingga menuju sasarannya. Dan wuuuzzz...panah melesat dan menancap di sasaran. Sayang meleset jauh dan tak berada di lingkaran paling tengah. 

Terik matahari tidak meluluhkan semangat saya untuk terus memanah. Saya mengambil kelas pagi yang dimulai jam 09.30 sampai pukul 2 siang. Sebetulnya jika tak ingin terlalu kepanasan, saya bisa mengambil kelas sore, yaitu pukul 4 sampai 6 sore. Sayangnya, kelas ini hanya untuk pemanah profesional. 

Buat saya, tak jadi soal kalau hari itu saya tak berhasil menembus sasaran. Yang utama, pengalaman ini mampu menghilangkan sedikit kepenatan karena rutinitas harian. Lain kali saya harus mencobanya lagi. 

 

 

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id