« Kembali
“Dunia Lelaki” Para Wanita Tangguh (I)
Dari pilot helikopter tempur sampai jaga rig di lautan.
Mona Indriyani, Shalli Syartiqa, Riza Nasser (Aceh)
Jum'at, 19 April 2013, 09:31 WIB
Lettu Fariana Dewi Djakaria Putri Pilot Helikopter EC-120B Colibri (VIVAnews/Muhamad Solihin)
Lettu Fariana Dewi Djakaria Putri Pilot Helikopter EC-120B Colibri (VIVAnews/Muhamad Solihin)

VIVAlife – “Uenak… eunak… mulus!” Kalimat ini terlontar dari salah satu pejabat daerah Surabaya saat helikopter yang ditumpanginya mendarat di Madiun, Jawa Timur. Ia tak sendiri. Dua rekannya yang tergabung dalam Muspida Jawa Timur ikut. Semua setuju landing skids helikopter menyentuh landasan tanpa cacat.

Adalah Lettu Fariana Dewi Djakaria Putri. Wanita 30 tahun yang dipercaya mengawaki helikopter milik TNI AU ini. Profesi yang masih sulit ditemui untuk era sekarang ini. Pilot wanita.

Tapi Fariana menyebutnya emansipasi. Keinginan yang diwariskan RA. Kartini di eranya. Meski banyak orang tetap meragukan kemampuannya mengemudikan burung besi ini. Ia juga menyadari posisinya sebagai minoritas, di antara ribuan kaum adam yang mendominasi profesinya. Justru ini yang menjadi tekatnya, bahwa wanita juga bisa.

Ini memang sudah seharusnya. Walau sebagian masyarakat masih membuat garis pemisah antara pekerjaan wanita dan laki-laki, banyak juga yang sudah mampu menghapus batasan ini. Yang terpenting adalah profesionalisme kerja.

Fariana membuktikan diri sebagai pilot wanita pertama TNI AU. Ini memang sudah cita-cita kecilnya. Lulus Sekolah Penerbangan tahun 2005, ia langsung bergabung dengan keluarga besar TNI AU dengan pangkat Sersan Dua-Bintara.

Dengan pangkat ini jalannya sebagai pilot sebenarnya tertutup. Karena hanya lulusan Perwira dari Akademi Kepolisian dan Prajurit Suka Rela Dinas Pendek (PSDP) di bawah Mabes yang dapat mengikuti sekolah penerbangan.

Tapi nasib nasib berkata lain. Keberuntungan ada di pihaknya. Ia bersama satu orang rekannya berhasil lolos serangkaian tes masuk Sekolah Penerbangan Lapangan Udara Adi Sutjipto.

Kariernya terus menanjak. Tahun 2007, wanita berambut cepak ini dilantik menjadi Perwira, Letnan Satu.

“Lumayan berat karena saya harus mengimbangi kaum mayoritas. Kalau laki-laki bisa melakukan push up 50 kali, saya harus dua kali lipat, 100 push up,” ujarnya. Mengenai perjalanan kariernya ini, Fariana menuturkan bahwa itu butuh perjuangan.

Bagaimana pergolakan hatinya sebagai Kapten Pilot saat harus membawahi kaum laki-laki. Dan bagaimana juga ia harus meyakinkan orang-orang dibalik kecantikan wajah dan kulit mulusnya, ia juga bisa bekerja layaknya laki-laki

“Saya sadar jika menjadi sorotan. Yang terpenting jika ingin bersaing dengan pria adalah jangan minta diistimewakan,” imbuhnya. Soal helikopter jenis apa saja yang sudah ditakhlukan, ia menyebut sudah mengemudikan rotary wing, bravo, hingga soloy. Ia juga satu-satunya wanita yang  berhasil mengendari Colibri EC-120B.

Cerita Fariana ini hanya sekelumit kehebatan wanita di dunia pria. Sederet wanita lain yang juga berhasil keluar dari zona kewanitaan adalah:

AKP Fitrisia Kamila, Anak Manja Jadi Kapolsek

AKP Fotrisia Kamila
 
Kesan sangar dan tomboi sama sekali tak tersirat pada dirinya. Wanita ini tak jauh beda dari wanita kebanyakan. Perawakannya imut, malah layak jadi model atau bintang sinetron. Demikian banyak orang menyarankan. Tapi ia tetap memilih menjadi Polisi Wanita.
 
Kini ia berpangkat Ajun Komisaris Polisi. Kepala Kepolisian Sektor Birem Bayeun, Kota Langsa, Provinsi nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pangkat ini bukan pangkat biasa di NAD yang menerapkan syariat Islam. Pimpinan wanita masih terbilang janggal.

Tapi ia menjadi wanita pertama yang menduduki jabatan tersebut. Untuk tugasnya ini, ia mengatakan menjadi pelayan di 27 desa.

“Ini bukan kali pertama saya menjadi Kapolsek, saya juga sudah pernah jadi Kapolsek di Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar. Kebetulan di Langsa belum pernah ada Kapolsek wanita. Ini menjadi tantangan juga buat saya,” katanya.
 
Mengenai profesinya kini, sang ayah sebenarnya agak ragu. Sejak awal dia menjadi polisi, ayahnya juga menanyakan apakah ia bisa lari, atau pertanyaan lain yang berhubungan dengan kegiatan fisik. Sejak kecil, Kamila memang anak yang paling dimanja.

Keraguan orangtuanya mampu dipatahkan. Sekarang, soal menungkap pencurian sudah menjadi pekerjaan yang gampang.
 
Kesibukannya menjadi Kapolsek tak lantas menguras waktunya sebagai wanita bersuami. Ia juga memiliki tiga orang anak. Ibu muda ini tetap telaten mengurus anak-anaknya. Tak jarang pula ia mendapat komplain saat pekerjaan menghimpit. Tapi ia membayarnya denganpergi liburan di setiap akhir pekan.

Masalah keluarga sudah bisa ditangani. Ia bisa membuktikan bahwa tak ada alasan wanita sibuk untuk kemudian menelantarkan keluarga. Ia menegaskan bahwa menjadi wanita tidak harus duduk manis di rumah. Wanita juga harus bisa bangkit, menjadi tulang punggung keluarga. Bukan wanita yang tergantung sepenuhnya pada suami.
 
“Uang yang kita cari dengan keringat sendiri itu beda lho dari uang yang kita terima dari suami. Meski nominalnya mungkin sama. Jadi kalau motivasinya ada, jalan itu pasti ada,” ujarnya. (wh)

Bersambung.....

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id