« Kembali
Lola Amaria Kembali Garap Film Bertema Buruh
Lola ingin filmnya tak terkesan seperti dokumenter atau menggurui.
Lutfi Dwi Puji Astuti, Rizky Sekar Afrisia
Jum'at, 19 April 2013, 16:23 WIB
Lola Amaria (VIVAnews/Muhamad Solihin)
Lola Amaria (VIVAnews/Muhamad Solihin)

VIVAlife- Setelah sukses membuat film Minggu Pagi di Victoria Park (2010) tentang tenaga kerja Indonesia di Hong Kong, kini,  Lola Amaria kembali berkarya dengan tema tontonan layar lebar yang tak jauh dari tenaga kerja wanita.

Film Kisah 3 Titik yang menjadi karya terbarunya, menceritakan problematika kehidupan buruh di Indonesia. Pada mulanya, di film ini, ia ingin menjadi produser. Namun ternyata, ia dipaksa ikut bermain.

"Di film ini saya nggak mau main, saya mau jadi produser saja. Tapi saya dipaksa main," ujar Lola saat ditemui di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta.

Meski awalnya 'terpaksa', Lola bisa memerankan tokohnya dengan baik. Ia menjadi satu dari tiga perempuan bernama Titik, yang menjadi manajer personalia di sebuah perusahaan yang membawahi pabrik. Ia berjuang dengan cara untuk memberikan hak-hak buruh.

Ia mengakui, film yang akan tayang 2 Mei mendatang itu sangat berkesan, terutama karena ceritanya yang sangat dekat dengan realitas. Kebetulan, ceritanya memang terinspirasi dari kondisi di tahun 2012 yang diwarnai demo buruh. Lola lantas melakukan riset selama sekitar setahun dengan mengikuti berita, sampai mendatangi langsung tempat kerja para buruh dan berbincang dengan mereka.

"Semua yang ditonton ini asli, ada kenyataannya, hanya dibuat dramatis. Ada yang korban sistem, keluar dari sistem, dan duduk di sistem. Kenyataannya hingga sekarang memang belum ada titik temu," beber mantan pemenang Wajah Femina itu.

Ia kemudian sengaja mengambil potret buruh perempuan, karena dirasa memiliki problem lebih kompleks dan lebih mudah menemukan dramanya.

Yang lebih membuat Lola berkesan, dalam perannya ia dituntut untuk melakukan adegan menyamar sebagai buruh di pabrik. Sebagai manajer, ia berupaya mencari informasi jujur mengenai apa yang dirasakan oleh para buruh.

"Itu (adegan menyamar) berat buat saya. Tapi dengan menjalankan itu semua, saya dapat banyak bahan," ia menambahkan.

Kesulitan lain, adalah memikirkan bagaimana memasukkan semua realita tentang buruh itu dalam film.

Lola ingin filmnya tak terkesan seperti dokumenter atau film yang menggurui. Ia juga tak berharap Kisah 3 Titik menjadi bumerang bagi pihak tertentu. Ada sindiran, namun tak boleh sok tahu dan sok benar, semua harus dilakukan dengan cair. Sehingga penonton film itu seperti berkaca pada realitas yang ada. Meski ada sindiran, namun tak pedas.

"Saya hanya ingin film ini bisa ditonton banyak orang. Juga bisa menjadi arsip ketika ada orang yang ingin meriset kejadian tahun 2012-2013. Film ini adalah potret untuk 20-30 tahun ke depan," tutur Lola bijaksana. (adi)

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id