« Kembali
Suka Duka Artis Belajar di Luar Negeri
Meninggalkan gelimang keartisan. Lebih hemat dan mandiri.
Beno Junianto, Rizky Sekar Afrisia
Jum'at, 26 Juli 2013, 15:13 WIB
Vidi Aldiano  
Vidi Aldiano  

VIVAlife - Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China. Peribahasa klasik ini tampaknya mengilhami banyak remaja di Indonesia. Semakin tinggi ilmu yang ditimba, semakin jauh sekolah ditempuh. Berbanding lurus dengan kualitas pola pikir mereka.

Terbukti, beberapa artis muda tak ragu meninggalkan karier yang tengah menanjak demi secercah pendidikan di negeri seberang. Ini bukan perkara materi atau gengsi. Lebih dari itu, mereka melakukannya untuk bekal diri menghadapi globalisasi.

Ilmu, itu yang dicari. Mereka bukan tak percaya pada kualitas pendidikan dalam negeri. Selagi masih muda, tak ada salahnya mencari yang terbaik di bidang masing-masing. Ada yang memilih sekolah musik, akting, atau universitas umum yang menampung pelajar-pelajar pilihan.

Sebut saja Cinta Laura dan Gita Gutawa. Keduanya hampir menginjak tahun ketiga di universitas terbaik dunia. Karier keartisan kini bukan lagi yang utama. Toh mereka masih bisa melakoninya lagi saat liburan dan pulang ke kampung halaman. 

Tak berbeda dengan Maudy Ayunda. Setelah setahun menunda kuliah dan aktif di layar lebar, tahun ini Maudy memutuskan berangkat menjemput impian. Ke Oxford University. Tak beda dengan Vidi Aldiano yang bersiap memaksimalkan kemampuan musiknya lewat summer course di Amerika.

VIVAlife merangkum perjalanan studi beberapa artis muda yang tak hanya sukses di karier, tetapi juga mengejar ilmu sampai ke  luar negeri.

Cinta Laura


Cinta bisa dibilang artis muda pertama yang merintis pendidikan di luar negeri, di tengah kariernya yang sedang gemilang. Sukses menelurkan lagu dan bermain layar lebar, remaja kelahiran 17 Agustus 1993 itu mendadak meninggalkan ketenarannya.

Sejak tahun 2011 ia rela tinggal di asrama kampus Columbia University, New York. Dari rumah berfasilitas lengkap, ruang pribadinya menyempit hanya 4x5 meter. "Isinya kasur, study desk, closet, itu doang," tuturnya dalam wawancara khusus dengan VIVAlife.

Ia juga harus berbagi kamar mandi dengan sepuluh orang. Dua toilet digunakan bersama. Bintang film Oh Baby itu harus mencuci baju sendiri, membersihkan kamar sendiri, dan tak jarang memasak sendiri. Ia tidak memungkiri bahwa hal-hal inilah yang membuatnya lebih mandiri.

"Aku pengennya humble, nggak mau terbiasa dengan fasilitas. It’s good to learn by your self," katanya.

Cinta melakukan itu semua demi menyabet gelar sarjananya di kampus tempat Presiden Amerika Barack Obama pernah menimba ilmu. Kampus yang menyandang predikat sebagai satu dari lima kampus terbaik di dunia. 

Untuk menjadi salah satu bagian dari kampus itu, Cinta harus bersaing dengan sekitar 60 ribu pelamar dari seluruh dunia. Ia diminta membuat esai khusus, resume diri, juga menyerahkan rapor selama SMA.

Ia menjadi bagian dari sekitar 6,2 persen pelamar yang diterima. Tak tanggung-tanggung, pelantun Tulalit itu langsung mengambil dua jurusan sekaligus. "Sekarang aku ambil Psychology dan German Literature," ujarnya menyebutkan.

Mengambil dua jurusan membuat kegiatan Cinta luar biasa sibuk. Apalagi ia punya target, lulus dalam waktu tiga tahun. Ia pun ngebut belajar. Kalau mahasiswa lain mengambil 4-5 kelas per semester, ia bisa 6-7 kelas. Cinta juga menambah dua kelas dalam enam minggu summer school.

"Aku perfeksionis, pengen nilai paling bagus dan selesai dalam tiga tahun. Aku sudah masuk sekolah yang bagus banget, bego banget kalau nggak maximize kemampuan aku," ucap Cinta bersemangat.

Nilai-nilai memang nyaris sempurna. IPK-nya lebih dari 4, dari nilai tertinggi 4,3.

Memang, waktunya habis untuk belajar. Setelah menyelesaikan tiga kelas per hari, Senin sampai Rabu ia ke perpustakaan. Mengerjakan tugas-tugas kuliah, berkutat dengan buku sampai pukul 12 malam. Jika ada tugas besar, bisa sampai subuh.

Di akhir pekan, sepanjang Jumat sampai Minggu, ia fokus menyelesaikan tugas yang menumpuk. Cinta tergolong disiplin. Ia selalu menuntaskan tugas seminggu sebelum deadline

Sebagai kegiatan hiburan, ia juga mengambil kelas hip hop dance di Broadway Dance Studio, dekat Times Square. Kegiatannya sungguh padat.

Namun, di sela-sela belajarnya itu Cinta tetap punya waktu untuk hang out bersama teman. Biasanya ia lakukan setiap Kamis malam, karena Jumat tak ada kelas. "Relax, ngobrol, sambil makan yang kecil-kecil dan minuman yang enak," ujarnya. 

Ia sama sekali tak punya kendala soal bahasa maupun pergaulan. Cinta sudah terbiasa hidup di kota yang berbeda-beda. Ia pernah tinggal di Dubai, Singapura, Malaysia, dan Jerman. Ia pun bersekolah di Jakarta International School, yang notabene kebanyakan siswanya berasal dari berbagai negara.

Bedanya, di New York tak banyak yang tahu Cinta adalah artis. Ini justru membuatnya bebas melakukan apapun. Tak perlu sopir untuk mengantar ke mana-mana. Cinta terbiasa menumpang transportasi umum seperti bus dan kereta.

Ia memang sengaja tak memberitahukan pada teman-temannya soal status keartisannya itu. "I want them to love me because of me, not because I’m an artist," tegasnya. Kalaupun ada yang tahu, itu tak sengaja karena mereka mencari profilnya di Google.

Cinta menuturkan, dua tahun menjalani kehidupan studi di Amerika membuatnya jatuh cinta pada New York. "Setelah itu aku akan ke Los Angeles, fokus akting. aku sudah punya manajer di sana, dan banyak yang minta casting film Hollywood atau program TV," katanya lagi. Opsi kedua, ia akan menggapai Master Degree di Harvard University dan bekerja di United Nations.

Maudy Ayunda


Di tengah popularitas di dunia hiburan tanah air, Maudy memilih bertolak ke London September mendatang. Ia akan melanjutkan studi ke Oxford University.

Sebenarnya, tahun lalu Maudy sudah diterima di kampus tertua di Inggris itu. Namanya juga masuk dalam daftar mahasiswa di Columbia University dan Brown University. Sayang, izin orang tua belum dikantonginya. Ia dianggap masih terlalu kecil. 17 tahun kala itu. 

Bintang film Perahu Kertas itu akhirnya memutuskan menunda kuliah sambil mempersiapkan mental. Tahun ini, Maudy melamar kembali di Oxford University. Lagi-lagi, ia diterima di jurusan PPE (Politics, Philosophy, and Economics).

Saat ditanya mengapa kampus ini yang ia pilih, dara yang juga membintangi iklan ini hanya menjawab: "Benar-benar city of education and civilization. Oxford itu the oldest English speaking university in the world,” ucapnya.

Selain itu, ada satu lagi alasan yang membuatnya memilih Inggris. Gadis kelahiran 19 Desember 1994 itu ternyata merupakan penggemar Harry Potter. Petualangan penyihir asal Inggris itu menginspirasinya untuk kuliah di London. 

"Yang paling exciting itu saya akan punya pengalaman dan environment baru. Meeting new people, learning new things, and escaping my comfort zone," tuturnya sambil tersenyum.

Ini kali pertama Maudy jauh dari orang tua. Namun ia justru menganggapnya sebagai peluang belajar mandiri. Tinggal di apartemen sendiri dan belajar memasak sendiri. "Bakal kangen sama nasi, sambal, rumah, my family, dan teman-teman. Tapi kan cuma tiga tahun," ujarnya.

Demi menggapai impiannya itu, Maudy harus rela meninggalkan dunia keartisan di Indonesia. Namun, bukan berarti ia bakal vakum selama tiga tahun penuh. Gadis yang menguasai bahasa Inggris, Spanyol, dan Mandarin itu percaya ia bisa bekerja selagi liburan.

"Saya tetap menjalankan keduanya, nggak ada yang ditinggalkan. Kalau libur saya bisa pulang dan main film, it’s possible. Di sana juga bisa recording. Nggak benar-benar end,” ujarnya yakin.

Gita Gutawa


Maudy Ayunda bukan satu-satunya aktris muda Indonesia yang kuliah di Inggris. Sebelumnya sudah ada pendahulunya, Gita Gutawa. Putri musisi Erwin Gutawa itu menuntut ilmu ekonomi di University of Burmingham. 

Awalnya, Gita tertarik menempuh studi khusus di bidang musik. Namun ia berpikir ulang. Gita merasa, dirinya membutuhkan ilmu lain selain musik. Berdasarkan ketertarikannya di bidang ekonomi, jurusan itu pun dipilihnya. Tahun ini, ia memasuki tahun ketiga di kampusnya.

"Kalau performance, itu sekadar hobi aku. Terus terang jurusan Ekonomi aku masih bingung ke depannya mau jadi apa. Rencananya aku mau ambil bisnis musik," ucapnya sambil tersenyum.

Di kelas, Gita bercerita, dirinya jadi satu-satunya mahasiswa dari Indonesia. Ada beberapa dari Asia, seperti Malaysia dan Singapura. Mayoritas diisi mahasiswa lokal Inggris, ada pula yang berasal dari negara Eropa lain seperti Italia.

Mulanya, pelantun Yang Terbaik Bagimu itu khawatir soal adaptasi. Ia takut, bahasa menjadi kendala. Perbedaan budaya dan kebiasaan juga pernah menjadi momok baginya untuk bergaul. Ternyata, setelah dicoba Gita tak mengalami banyak kesulitan. Semua sangat ramah. Ia justru berteman dekat dengan mahasiswa dari daratan Eropa.

"Alhamdulillah sosialisasinya mudah. Kendala bahasa awalnya mungkin ada, tapi Inggris kan second language," ujar bintang film Love in Perth itu. Tahun pertama, ia tinggal di asrama kampus. Namun, menginjak tahun kedua ia mulai tinggal di apartemen.

"Agak jauh dari kampus. Tapi aku pengen aja tinggal sendiri," ucapnya beralasan. Selama kuliah jauh dari orang tua, ia banyak mendapat pengalaman baru. Gita harus memasak sendiri, mencuci baju sendiri, dan berjalan kaki ke mana-mana. Alih-alih naik mobil, ia suka berjalan bersama teman.

Sama seperti Cinta Laura, tak banyak teman-temannya di sana yang tahu profesi Gita sebagai penyanyi dan aktris. Ia lebih menikmati hidupnya sebagai mahasiswa biasa.

Beberapa, lanjutnya, ada yang jahil searching di mesin pencari dan menemukan riwayat kariernya di Indonesia. Namun, Gita tak pernah sengaja bercerita pada mereka. Lagipula, mereka menerimanya dengan baik. Kalau beberapa kali ia musti pulang ke Jakarta untuk liburan sekaligus berkarier, teman-temannya mafhum.

Ia juga bergaul dengan sesama mahasiswa Indonesia dari jurusan yang berbeda-beda. Biasanya, mereka banyak memperbincangkan soal musik. Tak hanya bermain musik sebagai pelepas jenuh, mereka juga merekam beberapa lagu. Jika ada waktu luang, Gita mencoba mengarang lagu.

Menjalani kehidupan studi dan tetap eksis berkarier sebagai musisi memang menjadi pilihan gadis kelahiran 11 Agustus 1993 itu. Secara fisik, ia memang terlihat eksis hanya saat pulang kampung. Sebenarnya, selama di Inggris pun ia kerap bekerja secara on line bersama sang ayah. Itu khusus untuk pekerjaan di balik layar.

Dengan begitu, Gita merasa seakan punya dua dunia yang berbeda. Saat dirinya di Inggris, ia fokus studi. Karier hanya dijadikan sampingan. Ia juga punya waktu untuk me time ataupun hang out bersama teman-teman.

Saat pulang ke Indonesia, waktunya Gita berkumpul dengan keluarga dan fokus berkarier. Untunglah, itu tak mengganggu nilai-nilainya yang tetap bagus. "Malah terasa lebih balance," komentar Gita senang.

 
Vidi Aldiano

Mendukung konsentrasinya di bidang musik, tahun lalu Vidi Aldiano menempuh summer course selama dua bulan di Amerika. Ia mendapat beasiswa untuk belajar musik lebih dalam. Vidi menuturkan, waktu itu sebenarnya belum cukup.

Ia banyak berinteraksi dengan murid lokal. Bahkan, Vidi mengakui, ada seorang peremuan yang cukup dekat dengannya. Mereka kerap berbagi ilmu soal musik. Bahkan ada beberapa lagu yang Vidi ciptakan di negeri Paman Sam itu, terinspirasi olehnya.

"Aku nulis lagu banyak banget selama di sana, untuk album ketiga. Konteksnya kan memang belajar bikin lagu. Inspirasinya kebanyakan dari dia," tutur Vidi sambil tersenyum. Perasaan menyenangkan dalam hubungan pertemanan mereka pun terbawa ke lagu. Vidi banyak menciptakan lagu asyik.

Awalnya, pelantun Nuansa Bening itu tak menduga perbedaan budaya Amerika dan Indonesia begitu kentara. Kalau di sini serba sosial, berkelompok ke mana-mana, Amerika serba individualistis. Makan sendiri, tak ada kata ‘saling tunggu’ dalam kamus mereka.

"Awalnya aneh. Jahat banget kok nggak ditungguin," ungkap Vidi. Namun kelamaan, ia mulai terbiasa. Bahkan kerasan tinggal di sana lebih lama. Ia butuh sekitar dua minggu untuk beradaptasi dengan budaya itu.

Apalagi, Amerika merupakan negara yang sesuai idamannya. Di samping belajar, Vidi juga cukup banyak bersenang-senang. Ia menonton beberapa konser secara langsung. Kebetulan, Coldplay datang ke Boston dan Celine Dion menggelar konser di Vegas. Vidi merasa beruntung dan puas.

Setelah menempuh dua bulan sekolah, Vidi juga mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya di universitas di sana. Namun, ia harus kembali ke Indonesia dulu untuk menuntaskan pendidikan S1-nya di Universitas Pelita Harapan. Mei lalu, ia akhirnya diwisuda. Vidi resmi menjadi Sarjana Teknik dengan bidang konsentrasi Teknik Elektronika.

Bukan berarti ia lantas berleha-leha. Vidi langsung menggenjot kariernya. Ia menggelar berbagai konser serta serius menyiapkan album baru. Bahkan, pemuda kelahiran 29 Maret 1990 itu berencana langsung menempuh pendidikan S2.

Vidi menuturkan, dirinya sudah melalui berbagai tes dan akhirnya diterima di University of Manchester, jurusan Bisnis. Setelah lebaran tahun ini Vidi bakal berangkat ke Inggris. Jurusan Bisnis sengaja dipilih karena hidupnya tak jauh dari hal itu. Vidi bakal didapuk melanjutkan bisnis keluarga.

Kebetulan, bisnis ayahnya bergerak di penjualan speaker di sound system. Vidi merasa dirinya harus menjalin link demi membawa bisnis itu ke luar negeri. "Penjualannya bakal expand ke negara-negara di Eropa. Jadi gue harus memperdalam ilmu bisnis di Inggris," tuturnya penuh pertimbangan.

Selain itu, ia juga masih menjalani bisnis property bersama sang ibunda. Vidi juga berambisi merintis bisnisnya sendiri di bidang lain. Alasan itulah yang membuatnya memandang kuliah bisnis menjadi penting.

Perkara karier di bidang musik, kata Vidi, masih bisa ditangani. Pasalnya, baginya musik dan menyanyi layaknya passion yang memang akan terus dilakukan. Ia tak menganggapnya sebagai pekerjaan. Berbeda dengan bisnis keluarga yang menjadi tanggung jawabnya sebagai anak pertama.

Lagipula, ia menambahkan, akan ada banyak libur selama setahun masa kuliahnya. Libur Natal, tahun baru, dan Paskah akan dimanfaatkannya untuk pulang dan menggenjot karier di Indonesia. Ia menargetkan, lebaran tahun depan kuliahnya sudah rampung.

Persiapan Vidi kuliah di luar negeri cukup unik. Ia bakal membekali diri dengan berbagai peralatan masak. Pasalnya, lidah penyanyi yang berduet dengan Sherina itu tak cocok dengan makanan barat. Ia bakal mencari makanan bercita rasa Asia.

Ia sudah menyiapkan bekal makanan yang tahan lama, seperti mi instan dan rendang. Tak ketinggalan, Vidi membawa perbekalan wajib berupa sambal. Jika kurang, lanjutnya, ia akan meminta sang ibunda mengirimkan sambal untuknya.

Selain itu, Vidi juga membawa rice cooker. Tujuannya tentu untuk berhemat dengan memasak sendiri di apartemen. Ia berpengalaman memasak nasi goreng. Sesuatu yang didapatnya saat belajar Pramuka dulu. Ia juga membawa perbekalan vitamin untuk di sana.

Berhemat, kata Vidi, sangat penting saat hidup di Inggris. Meski hanya menempuh pendidikan selama setahun, biaya hidup di sana sangat mahal. Vidi mengaku sudah menyiapkan stok tabungannya sendiri.

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id