VIVALIFE

Indonesia, Incaran Baru Sutradara Hollywood

Sejumlah film Holywood dibuat di Indonesia. Alih pengetahuan?
Selasa, 27 Agustus 2013
Oleh : Lutfi Dwi Puji Astuti, Tasya Paramitha
Sutradara Michael Mann bersama Chris Hemsworth di Lapangan Banteng, Jakarta
VIVAlife- Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tampak meriah pada malam itu, Rabu 14 Agustus 2013. Ada sekitar 2.000 penari berpakaian adat Bali, berkumpul berpakaian merah. Tampak juga ondel-ondel, ogoh-ogoh, dan berbagai simbol tradisi nusantara. Ini bukan acara festival. Sutradara beken Hollywood, Michael Mann, lagi punya hajat.

Indonesia tampaknya sedang seksi bagi para sineas Hollywood.  Sebelumnya scene negeri ini tampil di 'Eat Pray Love', 'I Alex Cross', 'Java Heat', dan 'The Philosopher'.

Biasanya, para sutradara itu melirik Jawa dan Bali sebagai lokasi syuting. Tapi Michael Mann, sutradara beken yang menggarap film bermutu seperti 'The Insider' (1999), 'Miami Vice' (2006), 'Collateral' (2004) dan 'Public Enemies' (2009) itu memilih Jakarta.

"Saya mengagumi berbagai tempatnya yang penuh warna. Kebudayaannya unik, dan orang-orangnya ramah," ucap Mann.

Film terbaru Mann yang syutingnya di Jakarta itu belum diberi judul. Ceritanya berkisar soal pencurian dan serangan cyber di kawasan Asia Tenggara. Mann melakukan pengambilan gambar di sejumlah negeri, mulai Los Angeles, lalu ke Hong Kong, Malaysia, dan Jakarta.
 
Memimpin sekitar 300 kru film untuk garapan filmnya kali ini, Mann membidik lokasi di Pasar Tanah Abang, Kota Tua, juga Pelabuhan Sunda Kelapa.

Bikin ketagihan
 
Indonesia makin laris buat lokasi film kelas dunia. Ada banyak kekuatan yang bisa digali, misalnya lokasi dan budaya eksotik nusantara.

Pemilik Infinite Frameworks Studio di Batam yang memproduksi film Sing to The Dawn, dan Dead Mine, Mike Wiluan setuju dengan hal itu. Dia ikut membantu film Michael Mann selama di Jakarta.

Film garapan Mann ini,  kata Mike, akan jadi pengalaman penting bagi Indonesia. “Belum ada film Hollywood sebesar ini yang syuting di Jakarta,” ujarnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu juga sepandangan dengan Mike. Ikut berkunjung ke lokasi pengambilan gambar film itu, kata Mari, kementeriannya telah lama mempromosikan Indonesia ke para sutradara film internasional.

"Sebelumnya saya dan Mike 'jualan' di Los Angeles Film Location Show Mei tahun lalu. Terbukti sekarang Michael Mann merasa nyaman karena kami fasilitasi terus selama di sini," ucap Mari.

Mari mengatakan, Mann yang meraih Academi Awards itu,  bahkan berniat kembali ke Indonesia. "Tahun depan Mann akan kembali ke sini untuk syuting film lain. Untuk film itu, ia memang sudah melakukan riset di Indonesia sejak dua tahun lalu,” ujar sang menteri.

Tentu, kian sering sutradara asing menggarap film di Indonesia, akan memancing para pekerja film internasional lain untuk datang. Tentu banyak sisi positif yang bisa diraih. Selain promosi kebudayaan, tentu saja aspek bisnis, dan alih pengetahuan. 

"Produksi ini juga bisa melibatkan orang kita dalam membuat set dan macam-macam. Mereka appreciate dengan talent yang ada di Indonesia," ucap Mari.
 
Promosi wisata juga efektif jika film itu kelak laris. Para sutradara Hollywood juga melirik tempat selain Bali, seperti Gunung Bromo, Candi Prambanan hingga Pulau Mayo. Umumnya, mereka terkesan dengan segi eksotik alam dan budaya nusantara.

Chris Hemsworth,  pemeran utama di film garapan Michael Mann, misalnya. Dia menyukai Indonesia dan manusianya.

“Saya bahkan telah beberapa kali pergi ke Bali," kata Hemsworth yang juga menikah dengan aktris film Fast Furious 6, Elsa Pataky di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
 
Belajar budaya

Sutradara film Java Heat, Connor Allyn, yang menyatukan para pemain Indonesia dengan para bintang Hollywood itu, sempat juga belajar budaya Jawa di Indonesia selama syuting film 45 hari di Magelang dan Yogyakarta.
 
Ketika dia bekerja buat Java Heat, ada banyak orang, termasuk kru dan para pemain lokal yang membantunya memahami kultur Jawa. Ia juga tertarik menggarap cerita film fiksi lain dengan latar Indonesia.

Skenario Java Heat digarap Connor bareng ayahnya, Rob Allyn. Bujetnya sebesar Rp 15 miliar. Film itu bercerita tentang duet polisi Indonesia dan mantan marinir AS yang memburu teroris, dan penculik bernama Malik.

Sejumlah bintang Indonesia seperti Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Frans Tumbuan, Rudi Wowor, Mike Lucock, Verdi Solaiman, dan Tio Pakusadewo, terlibat di film itu. Mereka bermain bersama aktor Hollywood, Mickey Rourke dan Kellan Lutz. Ada 400 kru lokal dan internasional yang terlibat menggarap Java Heat.
 
Connor sendiri takjub dengan keindahan Candi Borobudur. Ia memakai Borobudur sebagai arena bagi adegan pertempuran di Java Heat. Dia merasa harus berterimakasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia atas kesempatan dan dukungan luar biasa.

Bagi Connor, Indonesia bukanlah negeri yang baru dikenalnya. Ia pernah membuat dokumenter tentang kelaparan di Jawa Timur. “Di situ saya melihat banyak hal kecil di Indonesia yang saya ingin Hollywood lihat, bukan hanya pemandangan indah saja,” ujar Connor,  yang terpesona oleh kebiasaan cium tangan di sini.
 
Salah satu bintang film Java Heat, Kellan Lutz,  merasa jadi orang istimewa karena bisa syuting di Candi Borobudur. Ia bahkan baru tahu jika candi umat Buddha itu adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. "Saya suka dan belajar banyak," ujarnya.

Tatkala menginjakkan kaki di Borobudur, pemeran Emmet dalam film Twilight itu terpukau oleh daya magis candi itu. Dia mengatakan ada semacam perasaan spiritual yang sulit dilukiskan.

"Apalagi melihat ada lilin, lampu, dan obor yang diterbangkan di adegan film itu," ujarnya. (eh)
TERKAIT
TERPOPULER