VIVALIFE

Tragedi Dul Bisa Pengaruhi Hak Asuh Anak

Maia tidak pernah dapat kesempatan hidup bersama anak-anaknya.
Senin, 9 September 2013
Oleh : Maya Sofia, Rizky Sekar Afrisia
Ahmad Dhani bersama ketiga anaknya Al, El, dan Dul (tengah).

VIVAlife - Kecelakaan maut yang melibatkan Ahmad Abdul Qadir Jaelani alias Dul, putra bungsa Ahmad Dhani dan Maia Estianty bisa berpengaruh pada perceraian kedua orangtuanya. Menurut pemerhati anak Seto Mulyadi, jika Dhani terbukti tidak sanggup mengasuh, hak atas anak-anak bisa dicabut.

Dalam kasus ini, Dul dianggap lalai karena mengemudi di bawah umur tanpa SIM, dan menyebabkan kecelakaan yang menewaskan enam orang. Proses hukum atas Dul belum dipastikan. Seto menyarankan, Maia dan Dhani tak saling menyalahkan dan fokus pada solusi agar kejadian serupa tak terulang lagi.

Masalahnya, hak asuh anak taruhannya. Seperti diketahui, itu menjadi isu yang mewarnai perceraian dua musisi tenar itu. Setelah bertahun-tahun Maia mendapat hak asuh, namun tak pernah berkesempatan hidup bersama anak-anaknya. Beberapa waktu lalu MA memutuskan hak asuh kembali ke pilihan Al, El, dan Dul yang sudah beranjak dewasa.

"Tergantung ini dampaknya seberapa jauh. Kalau ada masalah seperti ini, harus ditegaskan lagi siapa yang berwenang mendapatkan (hak asuh)," ujar Seto di RSPI, Minggu malam, 8 September 2013.

Yang saat ini dibutuhkan Dul, selain pemulihan fisik adalah dukungan psikologis. Itu penting diberikan oleh orang-orang terdekatnya. Seto menyatakan, Dul masih trauma dahsyat dan merasa bersalah.

Yang jelas, baik anak maupun orangtua harus ikut bertanggung jawab dalam kasus ini. Masing-masing introspeksi diri dan memikirkan solusi terbaik. Kalaupun ada hukuman, ia berharap Dul diperlakukan selayaknya anak di bawah umur.

"Harus ada restorative justice. Hukuman yang mengutamakan kepentingan anak," ujarnya.

Bisa jadi, kata Seto, kelalaian Dul adalah akibat kesalahan orangtua yang terlalu membebaskan anaknya. Untuk itu ia menyarankan, adanya monitoring dan kontrol dari orangtua. Penyebab lainnya, Seto menambahkan, adalah kondisi rumah tangga orangtuanya yang terpecah belah. Tak ada solusi yang lebih baik selain meningkatkan komunikasi antara orangtua dengan anak.

"Jangan terlalu membebaskan atau mengekang berlebihan. Perlakukan anak sebagai sahabat, tempat berdiskusi dinamika dan problematika remaja," ucapnya  bijaksana. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER