TUTUP
TUTUP
VIVALIFE

Remaja Indonesia Terjebak Rokok karena Iklan

Setiap tahun jumlah perokok remaja di Indonesia meningkat.
Remaja Indonesia Terjebak Rokok karena Iklan
persen remaja Indonesia merokok karena melihat iklan. (health. india.com)

VIVAlife - Iklan bagi sebuah produk merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan penjualan produk yang ditawarkan kepada masyarakat. Produk rokok juga sangat gencar untuk mengiklankan produknya meski sudah dicantumkan produknya berbahaya bagi kesehatan si perokok.

Di Indonesia, iklan rokok mempunyai pengaruh besar terhadap peningkatan jumlah penghisap rokok terutama pada kalangan remaja. Menurut survei Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 89,3 persen remaja Indonesia merokok karena melihat iklan. Baik itu di billboard, media cetak, elektronik ataupun televisi.

"Perokok setiap tahunnya selalu meningkat di Indonesia, terutama di kalangan remaja hal ini salah satunya dipengaruhi dengan maraknya iklan rokok dengan berbagai media," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, dalam acara The International NGO Summit On The Prevention Of Drugs, Tobacco And Alcohol Abuse. Acara tersebut berlangsung di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa 4 Februari 2014.

Menurutnya jumlah perokok yang berpendidikan tinggi sekitar 21,5 persen, 23,3 persen berpendidikan rendah. Sementara 32,3 persen perokok tergolong tidak mampu dan 24,3 persen perokok tergolong dari kalangan berada.

“Dapat dilihat, dari statistik mereka yang merokok itu adalah orang yang kurang berpendidikan dan berasal dari kalangan tidak mampu. Melalui media dan publikasi, orang yang tidak berpendidikan akan mudah terpegaruh untuk merokok. Oleh sebab itulah media sangat berperan untuk pencerdasan anak bangsa,” jelasnya

Perwakilan World Health Organization (WHO) untuk Indonesia Dr. Kancit Limpakarnjanarat mengatakan hal yang sama. Menurutnya, media massa dan lembaga pendidikan turut berperan dalam menanggulangi masalah narkoba, rokok dan alkohol.

“Dengan adanya peran dari seluruh elemen masyarakat dunia, terutama media dan lembaga pendidikan. Masalah kesehatan, terutama masalah penyalahgunaan narkoba, rokok dan alkohol akan mudah diatasi,” katanya

Sementara itu H.E. Tun Dr. Mahathir Mohamad, Mantan Perdana Menteri Malaysia, selaku pembicara utama dalam acara tersebut mengungkapkan iklan tentang rokok itulah yang membuat jumlah perokok semakin meningkat, kendati sudah menyisipkan kalimat peringatan kesehatan.

"Kalau hanya dengan pesan di iklan saja, itu tidak cukup dan tidak berkesan. Tapi kalau ada aturan tentang kawasan bebas asap rokok itu bisa sedikit berkesan bagi orang. Karena rata-rata mereka bisa menghormatinya itu dan tidak menghisap rokok," ujarnya.

Namun, Mahathir yang juga menjabat sebagai ketua Persatuan Mencegah Dadah (narkoba-red) Malaysia (PEMADAM) juga mengakui bahwa dari kalangan remaja masih banyak yang mengabaikan hal itu, baik dari pesan tentang rokok berbahaya atau pun kawasan bebas rokok itu. Karena itu menurutnya, pemahaman para remaja mengenai bahaya rokok itu harus lebih ditingkatkan.

"Saya percaya, kalau kita sudah bisa memperkuat pemahaman remaja tentang bahaya rokok ini, kita bisa meminimalkan jumlah perokok," katanya. (eh)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP