TUTUP
TUTUP
VIVALIFE

Saatnya Wanita Perjuangkan Hak Orgasme di Atas Ranjang

Kurang dari sepertiga perempuan Indonesia yang mengalami orgasme.
Saatnya Wanita Perjuangkan Hak Orgasme di Atas Ranjang
Ilustrasi pasangan bercinta (Hdwallpapers)
VIVA.co.id - Di era keterbukaan ini, orgasme tak lagi dianggap tabu. Hal itu pula yang menjadi perhatian bagi para aktivis perempuan untuk berani secara terbuka memperjuangkan hak kesetaraan seksual di atas ranjang.

Menurut aktivis gender Firliana Purwanti, isu selaput dara yang identik dengan keperawanan tak bisa dikaitkan lagi dengan moralitas. Ia mengatakan, mengategorikan seks sebagai isu moral telah memicu kesenjangan gender dalam pengalaman seks orang-orang Indonesia.

Inilah yang kemudian membuat kesetaraan seksual antara pria dan wanita di Indonesia tidak tercapai. Faktanya, wanita yang bisa mencapai orgasme tidak sebanyak pria, hanya 30 persen. Sementara pria mencapai angka 70 persen.

"Kurang dari sepertiga perempuan Indonesia yang mengalami orgasme, dibandingkan dengan dua pertiga laki-laki. Hal ini menunjukkan kesenjangan dalam pengalaman seksualitas di negara ini," kata Firliana dalam diskusi mengenai seksualitas sehat yang diadakan salah satu media online, Jumat malam, 18 September 2015.

Penulis buku The 'O' Project, hasil sebuah studi tentang wanita Indonesia dan orgasme itu menambahkan bahwa orgasme adalah hak wanita yang patut untuk diperjuangkan.

Dalam proses penulisan bukunya, ia mewawancarai sejumlah wanita Indonesia dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari heteroseksual, penyuka sesama jenis, pekerja seks komersil hingga biseksual. Ia hanya menanyakan satu pertanyaan yaitu 'Bagaimana orgasme Anda?'

"Kebanyakan dari mereka tidak bisa menjelaskan karena orgasme memang sebuah pengalaman yang tidak bisa didefinisikan. Yang pasti mereka langsung sumringah saat menceritakannya. Tapi ada juga wanita yang telah menikah bertahun-tahun, namun mengaku tidak pernah mengalami orgasme," ungkap Firliana.

Ia mengatakan, hal tersebut terjadi karena budaya masyarakat Indonesia yang terlanjur menganggap tabu hal-hal berbau seks. Wanita, lanjutnya, hanya dituntut untuk melayani kepuasan seksual pasangannya sehingga seakan-akan kepuasan wanita dalam hal ini bukan lah hal yang penting.

"Mengapa kepuasan seks atau orgasme penting? Karena itu adalah indikator kebebasan seksual dan merupakan jalan menuju kesetaraan di atas ranjang," ujar Firliana.

Lebih jauh lagi Firliana mengatakan wanita Indonesia berhak untuk menentukan siapa yang dipilih untuk menjadi pasangannya. Dan yang tak kalah penting tentu memiliki pengetahuan mengenai pendidikan seksual dan bebas dari kekerasan seksual.

Senada dengan Firliana, seksolog Zoya Amirin mengatakan bahwa di masyarakat saat ini telah salah kaprah mengenai seks dimana wanita sendiri tak terlalu memperhatikan kebutuhan seksnya.

"Karena kesalahpahaman ini, perempuan seringkali tidak merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan seksualnya sendiri dan mereka tidak mengambil sikap untuk menikmati keintiman seksual dengan pasangannya," ujar Zoya yang juga ditemui di kesempatan yang sama.
KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP