TUTUP
TUTUP
VIVALIFE

Menyoal Istilah Supermom

Istilah supermom muncul seiring perkembangan ekonomi dan industri.
Menyoal Istilah Supermom
Ilustrasi Supermom (pixabay/freeimages)

Banyak kaum ibu yang merasa harus jadi ibu super alias supermom. Padahal, tidak mungkin seluruh urusan rumah tangga bisa diselesaikan sendiri oleh seorang wanita terlebih wanita bekerja.

Di satu sisi menjadi supermom, adalah sesuatu yang tak bisa terelakkan. Akhirnya menjadi supermom dianggap suatu kebutuhan yang harus dilakukan ketika  berkeluarga. Maka dengan 'peran' ganda yang dipikul (ibu, istri, menantu, dan pegawai), mau tak mau seorang wanita dituntut menjadi supermom.

Adakalanya menjalani peran sebagai ibu dan pegawai kantoran sekaligus pun bisa chaos. Pengalaman ibu dua anak, Aulia, misalnya.

"Dari banyak hal yang saya sepakati bersama suami soal mendidik anak, adakalanya saya mengaku kalau saya terkadang membiarkan Alesha bermain gadget seharian demi menenangkan tanrumnya, karena saya sudah kelewat pusing. Atau ketika Sheena sakit, janji yang saya ucapkan dulu untuk tidak memberikan anak antibiotik ya saya langgar juga," ujar Aulia kepada VIVA.co.id.

Tak hanya Aulia, di antara situasi yang kompleks, Ary (31) seorang full time mom justru menganggap supermom hanyalah mitos belaka.

"Buat saya, supermom dan superwoman mah cuma ada di komik-komik. Semua ibu adalah supermom dan superwoman untuk keluarganya. Tidak ada bedanya ibu bekerja atau ibu rumah tangga, semua ibu adalah ibu yang terbaik untuk keluarganya," ujarnya.
 
Menurutnya selama ini orang banyak terpaku dengan konsep supermom sehingga seringkali lupa dengan hal-hal yang essensial seperti hubungan batin antara dirinya sendiri, dengan anaknya dan suami.
 
"Selama tidak membebani atau memaksakan diri. Jadilah diri sendiri, jangan terpaku supermom harus seperti ini itu, superwoman harus ini dan itu. Stres sendiri lah. Realistis aja, mana yang baik diikuti, yang enggak cocok ya enggak usah," ungkap ibu dua anak ini.

Berdasarkan survei yang dilakukan American Psychological Association (APA) pada 2010, angka stres lebih banyak dilaporkan oleh kaum wanita yang berstatus menikah (56 persen versus 41 persen wanita single). Jumlah tersebut terus meningkat selama 5 tahun belakangan.

"Menjalankan banyak 'peran' dalam rumah tangga dan lingkungan menjadi penentu tingkat stres seorang ibu. Terlebih lagi cara ibu mengatasi stres juga berpengaruh karena ibu cenderung dijadikan role model untuk urusan sikap dan penataan emosi. Seluruh anggota keluarga akan meniru sikap dan perilaku 'tak sehat' sang ibu," ujar Psikolog Lynn Bufka, PhD seperti dilansir dari laman APA.org.

Psikolog Anak Annelia Sari Sani, menyarankan untuk tidak memaksakan diri di luar kemampuan menjadi supermom.

"Lingkungan tidak menuntut kita jadi superwoman, tapi kita sendiri yang menuntut diri kita jadi superwoman. Kita harus bikin prioritas, kalau kita dipekerjakan karena kompetensi tertentu, kerjakanlah apa yang menjadi kompetensi kita. Jangan mengerjakan di luar kompetensi kita," ujarnya saat ditemui VIVA.co.id.

Terutama para ibu bekerja, kata Annelia, harus mempertanyakan lagi tujuannya bekerja.

"Kita bekerja untuk siapa? Buat anak, keluarga, untuk pengembangan pribadi. Kalau buat anak, tapi dalam prosesnya kita mengabaikan si anak, apa gunanya? Sehingga orangtua kalau mau punya anak harus mau capek, harus mau berkorban," ujarnya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP