TUTUP
TUTUP
VIVALIFE

Jalan Damai Perceraian, Mungkinkah?

Jangan sampai buah hati trauma karena sikap egois orangtua.
Jalan Damai Perceraian, Mungkinkah?
Ayu Ting Ting sedang menghadapi konflik soal anak dengan mantan suami (NUVOLA/VIVA.co.id)

Dampak pada Anak

Kawin cerai bukan hal yang tabu di zaman sekarang ini. Tingkat perceraian di kalangan masyarakat semakin meningkat. Namun, yang sering dilupakan orangtua dalam kasus perceraian ini adalah kebahagiaan anak. Bahkan, tak jarang anak-anak terluka saat orangtua memperebutkan mereka. 

"Dari perceraian itu adalah anak yang paling merasakan dampaknya. Anak enggak bisa memilih, harus ikut ibu atau ayah. Orangtua harusnya mereduksi dampaknya pada anak," kata Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Rita Pranawati saat dihubungi VIVA.co.id, Minggu 2 April 2017.

Rita pun mengungkapkan kadang saat bercerai, pasangan tak dapat mengesampingkan egonya. Pasangan yang saling benci ini tak memikirkan soal anak, mereka terkadang lebih mementingkan siapa yang menang dan kalah. 

"Jadi pokoknya masalah anak itu kadang dipikirkan belakangan. Sementara mereka masih ada dendam. Kalau menang hak asuh itu berarti win, dan yang satunya kalah. Padahal, bukan seperti itu. Pengasuhan anak tetap bersama, karena enggak ada mantan anak. Orangtua tetap memiliki kewajiban bersama mengurus anak walau bercerai, ujarnya. 

Sementara itu, Astrid Wen mengingatkan kepada pasangan yang bercerai, untuk hati-hati dalam bertindak dan harus memikirkan perasaan buah hati mereka. Pasangan yang berpisah juga harus memikirkan kondisi anak yang harus bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Karena jika anak mendapatkan sorotan yang besar akibat perceraian orangtuanya, ini akan memengaruhi kondisi si anak. 

"Mungkin saja mereka akan mendapatkan banyak respon dari lingkungan mereka, seperti mereka akan mendapatkan banyak simpati atau mereka juga bisa mendapatkan banyak bullying atau mereka mendapatkan opini public mengenai orangtua mereka," katanya.

Astrid pun mengingatkan saat bercerai, diusahakan agar pasangan menghindari kondisi saling menyalahkan dan membandingkan pengasuhan dan merasa yang terbaik dalam mengurus anak. 

"Jika kedua orangtua saling menyalahkan akan memberikan stres tersendiri pada anak. Sebagian anak akan berusaha berada di tengah-tengah dan mendamaikan keduanya. Tetapi, mungkin akan tidak baik bagi kondisi emosi anaknya," katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rita. Menurutnya, saat perceraian terjadi, perasaan anak yang seharusnya lebih dulu dipikirkan. Hak asuh jangan dianggap sebagai penguasaan mutlak. 

"Walau terjadi perceraian, anak tetap harus bisa bertemu dengan kedua orangtuanya. Pengasuhan anak harus dilakukan bersama," katanya.

Ia pun menambahkan tak ada salahnya jika pasangan yang bercerai, sesekali menuruti keinginan anak yang meminta jalan dan makan bersama.

"Memang mungkin bagi yang sudah ada pernikahan lain, ini harus dijelaskan kepada pasangan agar tidak terjadi salah paham. Katakan kepada pasangan, bahwa semua itu dilakukan demi anak. Memang tidak mudah," katanya. 


 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP