TUTUP
TUTUP
VIVALIFE

Dubber, Profesi Sulih Suara yang Menggiurkan

Proses dubbing biasanya diterapkan untuk serial televisi.
Dubber, Profesi Sulih Suara yang Menggiurkan
Pengisi Suara (Dubber) Indonesia (VIVA.co.id/Zahrotustianah)

Kuswayanti Woro Dewi

Jika Anda pecinta drama Turki yang sempat ngetren di Indonesia pada tahun 2016 lalu, Anda mungkin tak asing lagi jika mendengar suara wanita yang satu ini. Sapaan akrabnya tak sepanjang nama aslinya. Dia Way, pengisi suara wanita dari drama Turki terkenal Efsun dan Bahar. Ya, Way adalah sosok di balik karakter Efsun yang cerewet dan nakal itu.

Tapi tak hanya itu saja, Way saat ini aktif menjadi pengisi suara serial animasi India yang sedang digandrungi anak-anak, Shiva judulnya. Ia berperan sebagai Shiva yang merupakan remaja tanggung laki-laki. Suara Way rupanya bukan cuma pas untuk peran antagonis dan anak kecil saja, ia juga sering melakoni karakter nenek, seperti pada serial India fenomenal, Uttaran. Menjadi protagonis pun pernah, saat Way didapuk sebagai pengisi suara Anjali di film Kuch Kuch Hota Hai, Jang Geum di Drama Korea Jewel in the Palace, dan masih banyak lagi peran lainnya.

Kuswayanti Woro Dewi, Pengisi Suara (Dubber)

Ragam karakter suara yang dimainkannya bukan didapat dengan cara yang instan. Way sudah masuk ke dunia dubbing sejak tahun 1995 atau sekitar 22 tahun lamanya. Tentu perjalanannya pun tak sesingkat film berdurasi dua jam. 

Awal kisahnya sebagai dubber dimulai saat kuliah. Bersama enam orang temannya, Way ikut casting untuk pengisi suara. Tapi anehnya, hanya dia yang diterima. Aktivitas itu pun dilakukannya sebagai sambilan di tengah kesibukan kuliah. 

Way sempat bekerja di luar dunia dubbing, termasuk jadi bagian dari Indosiar selama 10 tahun lamanya. Namun, bakatnya sebagai artis suara membuatnya kembali dan akhirnya memutuskan untuk menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi unggulan. 

Soal beberapa pengalaman seru, dubber satu ini juga dikenal punya perasaan yang sensitif. Way mengaku sering kali tak bisa menahan perasaan ketika membawakan adegan yang berhubungan dengan anak-anak dan orangtua. Ia bahkan pernah menangis sesenggukan ketika dialog yang dibaca mengingatkannya pada sang ayah.

"Waktu ada adegan Bapak, nangis lama banget. Sedih banget sampai saya enggak bisa ngomong," kata Way yang menjawab sambil menyandarkan kepalanya ke dinding studio.

Bukan cuma itu, Way ternyata juga mengungkap bahwa sebenarnya ia sangat takut mengikuti kisah bergenre horor. Pernah suatu waktu dia mengisi telenovela menyeramkan. Hasilnya, Way selalu tak sabar untuk segera menyudahi bagiannya.

"Dulu baru kali itu dapat telenovela horor. Ada pengantin baru lari-lari pakai gaun banyak darah. Saya enggak mau lihat monitor, mana pakai audio yang suaranya juga begitu. Ngeri banget," kisahnya.

Lama berkecimpung di bidang sulih suara, rupanya membuat Way ikut mengalami perubahan yang terjadi dalam industri tersebut. Wanita 42 tahun itu mengisahkan, dahulu, para dubber tidak bisa terjun begitu saja. Ada proses pelatihan yang harus dijalani sebelum benar-benar duduk di balik mikrofon.

Banyak kenangan masa lalu yang masih terkenang di ingatannya. Ia tertawa kecil saat menceritakan bagaimana sistem bayarannya dahulu berbeda dengan sekarang.

"Dulu bayarannya per baris. Kalau akhir bulan baris kita dihitung, ada berapa yang kita dubbing totalnya," tutur wanita berhijab ini. 

Maju mundur langkahnya menyusuri jalan dubbing juga diwarnai protes sang ayah yang tak suka jika ia menjadi dubber. Ketika belum menikah, ia bahkan sering dimarahi ayahnya. Namun Way tetap bersyukur, kegiatan sulih suara kala itu bisa membantu biaya kuliahnya, sekaligus menariknya lebih dalam menyelami profesi yang dicintainya ini.

Nurul Ulfa

Saat berbincang normal dengan dubber yang akrab disapa Ulfa ini, suaranya terdengar seperti wanita dewasa pada umumnya. Tapi ketika mendengarnya membacakan salah satu dialog dari drama Mohabbatein, sulit dipercaya, karena suaranya sangat berbeda. Dalam serial India di ANTV itu, Ulfa berperan sebagai Ruhi, gadis kecil dengan suara yang imut-imut.

Ulfa memang sering mengisi suara untuk anak kecil dan juga animasi. Debutnya sebagai dubber profesional rupanya dimulai lewat karakter Ransel di serial animasi Dora the Explorer yang terkenal itu. Ia juga sosok di balik pujaan hati Nobita, yaitu Shizuka dalam Doraemon yang tayang pada tahun 2006 hingga 2008. Baik itu India, Turki, maupun Korea, Ulfa juga pernah terlibat di dalamnya.

Namun tak melulu anak-anak, Ulfa pun sering didapuk sebagai pengisi suara wanita remaja dan dewasa, bahkan nenek-nenek. Di serial India paling hit, Uttaran, misalnya. Ulfa berperan sebagai Icha yang karakternya diceritakan begitu menyayat hati penggemar karena harus meninggal. 

Nurul Ulfa, Pengisi Suara (Dubber)

Bergabung di serial-serial unggulan jadi kesan tersendiri untuk wanita 31 tahun ini. Ia tak menyangka bisa bertemu langsung dengan aktris Uttaran yang asli ketika datang ke Indonesia. Tak hanya sekadar bertatap muka, Ulfa juga ikut acara meet and greet para pemeran serial hit tersebut.

Hal serupa juga pernah terjadi karena Doraemon. Siapa yang tak kenal tokoh fiksi yang diciptakan Fujiko Fujio ini. Komik dan serial animasinya laris di berbagai belahan dunia, tanpa batas zaman. Karena keterlibatannya di dunia Doraemon, Ulfa juga pernah ikut tur ke sejumlah kota, bertemu orang-orang baru dan jadi pengalaman tak terlupakan dalam hidupnya. “Itu berkesan banget sih buat aku," Ulfa mengucapnya bahagia.

Karier Ulfa di bidang dubbing dimulai pada tahun 2003. Sejak awal, Ulfa memang tertarik dengan dunia sulih suara. Lewat seorang kenalan, langkah besar untuk memulai mimpi akhirnya dilakukan. Dia masuk studio untuk peran perdananya sebagai Ransel. Sejak saat itu, Ulfa pun makin melaju menjadi pengisi suara profesional.

Berada di level sekarang tak membuat Ulfa jumawa. Dubber baginya adalah pekerjaan dengan proses belajar tiada akhir. Seorang dubber tidak hanya menyumbang suara, tapi juga menghayati karakternya. Itu pun tak semudah yang terlihat, karena butuh waktu dan jam terbang yang cukup untuk membuat sebuah karakter menempel dan menyatu perasaannya.

Dibanding kesan mengesalkan, Ulfa mengungkapkan justru profesi ini sangat menyenangkan. Pernah juga bekerja sebagai pegawai kantoran dahulu, ia merasa jauh lebih santai dan menikmati yang sekarang, karena tak ada pekerjaan kantor yang harus dibawa pulang.

"Dunia dubbing dan pekerjaan menjadi dubber sudah menjadi bagian dari hidup saya, saya sangat mencintai pekerjaan ini dan sangat menikmati suka dukanya," kata Ulfa dengan senyuman.

Cara Kerja dan Tantangannya

Dalam proses dubbing, para dubber akan membaca naskah yang sudah disusun oleh tim dialog. Meski terlihat mudah, tapi nyatanya tidak sesederhana itu. 

Ketika membaca dialog, dubber harus punya feeling untuk menyesuaikan dengan mimik dan kecepatan bicara pemeran aslinya. Rasa itu juga termasuk soal bahasa yang digunakan dalam naskah. Jika terlalu panjang, pendek, atau dirasa tidak nyaman, maka dubber harus sigap menanganinya. Tak jarang juga mereka melakukan improvisasi agar percakapan lebih natural.

"Kita harus punya banyak perbendaharaan kata biar bisa improvisasi, tapi enggak keluar dari naskah. Harus Bahasa Indonesia yang baik," kata Ulfa menjelaskan.

Jika Way bercerita bahwa dahulu ada proses latihan sebelum rekaman, maka kini tidak lagi. Para dubber langsung mengambil alih mikrofon untuk membaca naskah yang ada sambil mendengarkan audio percakapan asli dengan headphone dan menonton adegannya di layar yang tersedia.

"Biasanya kagok lima episode pertama, menyesuaikan dulu sama karakter. Baru ke sanannya bisa dapat feeling-nya. Oh, ngomongnya begini, kecepatannya segini, selanjutnya kita tinggal masuk ke karakter dan suasana dengan dibantu pengawasan dari pengarah dialog," Mahin menerangkan.

Tingkat kesulitan masing-masing serial pun berbeda. Drama Turki, misalnya. Menurut mereka, drama ini termasuk cukup sulit untuk dilakukan. Sebab, Drama Turki punya durasi dan dialog yang panjang serta rapat. 

"Pasti lama, banyak nyerocos kalau kehilangan kecepatan atau kelambatan kita bingung, karena enggak ngerti bahasanya. Patokannya sih jadi kalau dia nyebut nama. Kita baru tahu deh apa kita kecepatan atau kelambatan," kata Mahin lagi.

Begitu juga dengan Drama Korea dan Mandarin yang menurut, Way, para aktornya punya kecepatan bicara yang lebih dari kita sebagai orang Indonesia.

"Korea Mandarin, speed-nya cepat, sementara dialog masih banyak. Mana yang harus dibongkar agar pas dan lain-lain," tambahnya.

Bagi mereka, membawakan dialog untuk Serial India termasuk lebih mudah dibanding lainnya. Drama ini punya dialog yang bercampur dengan Bahasa Inggris sehingga para dubber bisa menyesuaikan diri lebih baik.

Selain itu, meski para dubber statusnya sebagai pekerja lepas, mereka juga punya tuntutan batas waktu pekerjaan. Pada kasus para dubber yang bekerja di Studio Erfas di Tanjung Duren itu, dalam sehari, mereka bisa mengerjakan 30 hingga 40-an episode dari sekitar 3-4 judul dengan durasi per episodenya 30 menit. Mereka diburu waktu karena serial yang digarap, biasanya tayang setiap hari selama satu minggu.

Tak heran jika ketiga dubber yang saya temui menyerukan bahwa jam kerja mereka bisa dari pagi hingga pagi lagi. Studio bahkan sudah menjadi rumah kedua untuk para dubber ini.

Jam kerja yang tak menentu itu juga tak dipungkiri jadi risiko pekerjaan yang mau tak mau harus diterima. Rasanya sulit, apalagi ketika mereka juga punya peran sebagai orangtua dari anak-anak di rumah.

"Paling sedih ketika sedang liburan sekolah, sementara jadwal saya sedang padat. Akhirnya sering saya titipkan ke omnya kalau ada yang mau liburan, barengan sama sepupunya," kata Mahin.

Begitu juga dengan Way dan Ulfa yang sering kali membatalkan rencana liburan keluarga karena jadwal yang terlampau padat. Tapi lambat laun, keluarga mereka bisa menerima. Tanpa mengabaikan kehidupan keluarga dan sosial, membagi waktu sesuai porsinya jadi cara untuk tetap menyeimbangkan semua peran kehidupan mereka sebaik mungkin.

"Weekend biasanya full untuk keluarga," kata Way yang juga diamini oleh Mahin dan Ulfa.

Pengisi Suara (Dubber) Indonesia

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP