TUTUP
TUTUP
VIVALIFE

Dubber, Profesi Sulih Suara yang Menggiurkan

Proses dubbing biasanya diterapkan untuk serial televisi.
Dubber, Profesi Sulih Suara yang Menggiurkan
Pengisi Suara (Dubber) Indonesia (VIVA.co.id/Zahrotustianah)

Upah dan Pendapatan

Bagian ini mungkin yang paling membuat Anda penasaran. Sebenarnya, berapa sih honor atau pendapatan para dubber ini?

"Hmmm... lumayan buat hidup. Hahaha," ketiganya kompak tertawa.

Setelah terdiam sesaat, mereka menjelaskan, menjadi dubber sejauh ini tak berbeda dengan pekerja lepas lainnya. Mereka dibayar per episode berdasarkan kesepakatan antara dubber dan pihak studio. Tidak ada standar besarannya, tapi yang jelas, ada perbedaan untuk pengisi suara pemeran utama dengan pemeran pendukung.

"Dubber itu honornya fluktuatif, tergantung berapa episode yang kita kerjakan dalam sebulan," jawab Ulfa.

Mahin menambahkan, honor yang mereka terima memang tergantung dari apakah dubber itu terlibat banyak program, lalu apakah di program itu episode yang dimainkan penuh atau tidak.

"Misalnya kita ikut tiga film, tapi di film itu kita porsinya sedikit dan tidak selalu ada. Tapi ada yang dua film dan ada terus (bagiannya), banyak kitanya. Dengan tiga film yang banyak bolongnya, masih banyakan yang dua," katanya.

Masih penasaran dengan angkanya, bukan? Mereka melanjutkan, jika dirata-rata setiap bulannya, pendapatan yang diperoleh tak kalah dengan para pekerja kantoran.

"Bedanya mereka (pegawai kantoran) ada tunjangan, kita enggak. Secara normal gajinya dia plus tunjangan kesehatan dan lain-lain, bisalah bersaing dengan kita yang per episode," tambah Mahin yang diikuti tawa kecil Way.

Cukup banyak serial drama dan telenovela yang diputar ulang di stasiun televisi yang berbeda lantas menimbulkan pertanyaan, apakah ada sistem royalti yang diterima para dubber ini?

"Enggak ada, paling kebijakan dari studio ketika ada film yang dulu pernah dikerjain di sini (studio) dari stasiun (TV) A, lalu stasiun B minta film yang sama selang beberapa bulan kemudian. Ketika datangnya ke sini, kita akan dibayar lagi meski eggak full. Pada prinsipnya (bayar) putus deh," ujar Mahin lagi.

Dalam kasus lain, ada perlakuan yang cukup berbeda, misalnya ketika mengisi suara untuk iklan komersial. Ulfa, wanita yang mengaku beberapa kali digaet mengerjakan iklan itu mengatakan, dalam kontrak biasanya disebutkan lama waktu tayang dan penempatannya. Tapi sayangnya, ada saja oknum-oknum tertentu yang 'nakal' dan mengambil keuntungan sendiri.

"Bisanya sih kalau di iklan, misalnya ada dua bulan perjanjian, harusnya udah enggak ada lagi, tapi ya cuma kadang ada aja yang lolos, udah biasa. Misalnya bilang tayangnya (iklan) di TV eh tayang di bioskop. Agak lemah memang pengawasannya. Jadi ya tahunya dari sesama teman aja," Ulfa tertawa.

Satu yang pasti, profesi ini disyukuri ketiganya sebagai sesuatu yang bisa diandalkan. Memulainya sejak remaja, para dubber ini membeberkan bahwa mereka bisa membiayai kuliah sendiri hingga hidup berumah tangga seperti sekarang. Sudah jadi profesi utama, mereka mantap menggantung rezeki pada dunia sulih suara ini.

Kiat dan Harapan

Mengolah vokal untuk bisa memerankan karakter ganda tak sebatas hanya memainkan tinggi rendahnya suara. Belum lagi diperlukan intonasi dan kecepatan bicara yang pas untuk bisa sinkron dengan tayangan aslinya. 

Ketiga dubber tersebut mengaku, tak pernah ada treatment khusus untuk menjaga suara mereka. Namun yang pasti, proses belajar tiada henti adalah kuncinya.

"Learning by doing by the time, dulu enggak bisa dikasih nenek-nenek, lama-lama latihan ngelihat teman, sekarang bisa dengan sendirinya," Ulfa menjawab.

Profesi dubber juga kian dilirik anak-anak muda saat ini. Di media sosial, pertanyaan tentang bagaimana caranya masuk ke dunia dubbing dan syarat apa yang dibutuhkan untuk jadi dubber kerap kali muncul. Mereka punya jawabannya.

"Artikulasi harus jelas ketika berdialog, idealnya tidak boleh cadel. Menguasai Bahasa Indonesia yang baik dan juga bisa masuk dalam penjiwaan," kata Mahin.

Para dubber ini juga menjelaskan, mereka yang tertarik terhadap dunia sulih suara bisa memulainya dengan belajar berdialog. Sering menonton serial atau film dengan sulih suara pun bisa sangat membantu. "Nonton, pelajari reaksinya gimana, lalu ikuti saja. Dulu juga begitu," kata mereka.

Profesi dubber terlihat sederhana dari luar, tapi tentu saja, bekerja di industri seni dan kreatif punya lini waktu yang tak menentu. Terkadang sepertinya santai, pun sering kali diburu deadline. Berhubungan dekat dengan dunia hiburan, tapi tak selalu dapat perhatian. Tak heran, jika Mahin, Way, dan Ulfa punya harapan besar untuk profesi yang sangat dicintainya ini. 

"Idealnya sih ingin bisa membuat profesi ini tidak dipandang sebelah mata sama orang lain, karena profesi ini juga membutuhkan skill yang belum tentu semua orang bisa menjalaninya," tutur Mahin.

Senada dengan pria yang bergabung dalam komunitas motor itu, Ulfa juga berharap para dubber Indonesia terus meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas agar bisa menghasilkan film dengan dubbing yang bagus dan diterima masyarakat. Way pun demikian.

"Semoga bisa jadi perhatian pemerintah sehingga ada ketentuan dan kebijakan yang baik soal standar dubber, honor, royalti, dan sebagainya. Seperti musik dan film, karena dubbing sudah menjadi lapangan pekerjaan juga," lanjut Way.

Ketiganya tentu saja sangat ingin profesi sebagai seorang dubber bisa bertahan dan bersaing dengan bidang lain di industri kreatif Tanah Air. Para pengisi suara ini, bagaimana pun juga, adalah penghibur yang berakting dengan suara mereka.  (umi)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP